PBB Beberkan Proses Penyerahan Petisi Papua Barat

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap momen saat pemimpin kumpulan separatis the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda, memberikan petisi soal referendum kebebasan Papua Barat untuk Komisioner Tinggi HAM PBB, Michelle Bachelet.

Wakil juru bicara Komisioner Tinggi HAM PBB (OHCHR), Ravina Shamdasani, mengatakan untuk CNNIndonesia.com bahwa petisi tersebut di berikan saat Bachelet sedang bertemu dengan utusan Vanuatu, dalam sesi Ulasan Universal Periodik Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss.



"Dalam pertemuan ini, di antara anggota utusan Vanuatu, Benny Wenda, memberikan petisi untuk Komisioner Tinggi. Pertemuan ini tidak ditata khusus oleh Wenda guna tujuan itu (menyerahkan petisi)," kata Shamdasani melewati surat elektronik, Selasa (29/1).


Berdasarkan keterangan dari Shamdasani, Bachelet lantas mengatakan untuk Benny bahwa OHCHR telah berkoordinasi dengan Indonesia tentang masalah HAM di Papua, dan meminta akses ke pulau sangat timur Indonesia tersebut.

"Indonesia sepakat untuk menyerahkan akses untuk kantor kami ke Papua dan kami menantikan konfirmasi bersangkutan penataan tersebut," kata Shamdasani.

CNNIndonesia.com telah meminta penjelasan untuk Kementerian Luar Negeri RI untuk memahami perkembangan proses pemberian akses PBB ke Papua, namun belum menemukan respons.

Hingga berita ini dibuat, CNNIndonesia.com pun masih menantikan konfirmasi mengenai tahapan PBB selanjutnya menanggapi petisi ini.

Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko, mempercayai PBB tidak bakal menggubris petisi yang dianggap sudah ditandatangani 1,8 juta orang tersebut karena memandang badan internasional tersebut memuliakan kedaulatan Indonesia.

"PBB pasti memuliakan kedaulatan Indonesia," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/1) kemarin.

Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, pun mengatakan penyerahan petisi sama sekali bukan masalah untuk Indonesia. Dia menekankan andai ada kumpulan yang hendak memisahkan diri dari Indonesia maka mesti berhadapan dengannya.

"Begini ya, apa juga ngomong segala macem, enggak boleh merdeka. Titik. Ya, bila mereka berhadapan dengan tentu menteri pertahanan dulu dong, menteri pertahanan negara," ucapnya.

Ryamizard pun menyatakan tak cemas dengan klaim Benny soal terdapat 1,8 juta orang yang menandatangani petisi tersebut.

"Tidak masalah. Kita lebih tidak sedikit kok," ujar Ryamizard.

Sementara itu, Kepala Penerangan Komando Daerah Militer Cenderawasih, Muhammad Aidi, meragukan jumlah orang yang dianggap meneken petisi tersebut.

"Jumlah tersebut sangat tidak mendasar. Jumlah warga di Papua Barat 2,5 juta. Di Nduga saja 70 persen di antaranya masih hidup laksana di masa prasejarah, bahkan tidak punya data kependudukan. Bagaimana dapat ada 1,8 juta orang tanda tangan?

Comments

Popular posts from this blog

Kakak Raja Thailand Calonkan Diri Jadi Perdana Menteri

Twitter Pertimbangkan Bikin Fitur 'Klasifikasi'

Tolak Maduro, Australia Dukung Juan Guaido Pimpin Venezuela