Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) tengah menyelidiki sangkaan tindakan spionase yang dilaksanakan China terhadap sedikitnya 56 instansi dan lembaga ekonomi Amerika Serikat. Di hadapan Senat, Direktur FBI Christopher Wray menuliskan Negeri Tirai Bambu adalahancaman intelijen sangat signifikan guna AS.

"Kami mempunyai sejumlah penyelidikan ekonomi, misalnya, di nyaris setiap 56 lembaga kami. Ini melulu pengungkapan di satu sektor saja," ucap Wray pada Selasa (29/1).

"Jumlah mata-mata mereka barangkali meningkat dua kali lipat dalam tiga atau empat tahun terakhir, dan tidak semuanya, tetapi nyaris semuanya mengarah lagi ke China," ujar Wray.



Wray menyatakan urusan tersebut sehari sesudah Kementerian Kehakiman menuduh raksasa telekomunikasi China, Huawei, atas sangkaan menculik rahasia perusahaan pesaingnya, T-Mobile USA.


Isi tuduhan menyatakan Huawei menawarkan bonus untuk setiap karyawan yang jumlahnya menurut nilai informasi yang dapat mereka curi dari perusahaan beda di semua dunia.

Informasi-informasi curian itu disebut dikirim semua karyawan melewati alamat surat elektronik dengan sandi ke kantor pusat Huawei.

Dalam rapat, sebanyak petinggi intelijen menilai China adalahancaman sangat kuat secara politik, militer, dan ekonomi untuk AS. Mereka memandang ancaman itu terus tumbuh.
Lihat juga: AS Tuduh Huawei Menipu Bank dan Curi Rahasia Dagang
Berdasarkan keterangan dari laporan intelijen AS berjudul 'Penilaian Ancaman Sedunia' yang diluncurkan pada Selasa (29/1) kemarin, China disebut pun menargetkan sektor teknologi AS yang urgen bersangkutan spionase. Laporan tersebut memperkirakan China akan menculik setiap teknologi yang tidak dapat mereka bikin sendiri namun penting untuk kepentingan negaranya.

"Kami pun prihatin mengenai potensi intelijen China dan layanan ketenteraman mereka memanfaatkan perusahaan teknologi informasi China sebagai platform spionase teratur dan sistematik terhadap AS dan sekutu kami," bunyi laporan tersebut seperti dilansir AFP.

Sementara itu, Direktur Badan Intelijen Kementerian Pertahanan AS, Letnan Jenderal Robert Ashley, menuliskan pemerintah China sudah mempersulit perusahaan Negeri Tirai Bambu guna menjadi penguasa murni dan menghindari kecurigaan.

"Huawei perlu menciptakan keputusan mengenai arah yang hendak mereka ambil berhubungan bagaimana mereka menyokong pemerintah China atau sebagai bisnis independen," ucap Ashley.
Lihat juga: AS Dakwa Bos Huawei Terkait Sanksi Iran
"Tantangannya ialah Huawei tidak berwenang menyimpulkan itu, namun Partai Komunis China dan Presiden Xi Jinping," ujar Ashley

Comments

Popular posts from this blog

Kakak Raja Thailand Calonkan Diri Jadi Perdana Menteri

Twitter Pertimbangkan Bikin Fitur 'Klasifikasi'

Tolak Maduro, Australia Dukung Juan Guaido Pimpin Venezuela