Filipina Gempur Abu Sayyaf dari Udara Usai Teror Bom
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte menyuruh angkatan bersenjata mengenalkan serangan udara terhadap kumpulan militan Abu Sayyaf, yang diperkirakan bertanggung jawab atas insiden bom ganda di di antara katedral pada akhir pekan lalu.
Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana menuliskan aparat terus mengintensifkan operasi militer terhadap Abu Sayyaf di unsur selatan Provinsi Sulu, tergolong serangan udara ke sejumlah wilayah di Kota Jolo.
"Perintah Presiden Duterte ialah untuk menghancurkan Abu Sayyaf," kataseperti dilansir The Strait Times pada Kamis
Serangan bom ganda di Gereja Katedral Our Lady of Mt. Carmel pada Minggu (27/1) menewaskan 21 orang dan melukai ratusan lainnya.
Lihat juga: Duterte Minta Militer Hancurkan Abu Sayyaf Terkait Bom Gereja
Ledakan bom berawal ketika semua pelaku meledakkan diri di dalam gereja dan lokasi parkir mobil.
Serangan ini adalahsalah satu yang sangat mematikan dalam sejumlah tahun terakhir di distrik tersebut. Pulau ini pun menjadi basis kumpulan Abu Sayyaf.
Lorenzana menuliskan telah menerima laporan bersangkutan bisa jadi serangan teror di wilayah tersebut sejak Agustus lalu. Namun, sayangnya aparat Filipina tetap tak mampu mengantisipasinya.
Lorenzana menuturkan semua penyelidik masih terus melakukan penyelidikan bersangkutan serangan itu demi mencari bisa jadi ada terduga lainnya yang terlibat, tergolong sepasang penduduk asal Yaman.
Lorenzana mengemukakan dua penduduk Yaman itu diduga menjadi pelaku yang meledakan sabuk peledak di gereja tersebut.
Berselang sejumlah hari sesudah insiden di Gereja Katedral Our Lady of Mt. Carmel, suatu granat meledak di suatu masjid di Kota Zamboanga. Insiden tersebut menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya.
Lihat juga: Abu Sayyaf Diduga Jadi Otak Pengeboman Gereja Filipina
Kedua insiden ini terjadi saat Undang-Undang Organik Bangsamoro (BOL) Filipina baru-baru ini diabsahkan pemerintah. Beleid itu adalahhasil kesepakatan damai antara pemerintah dan salah satu kumpulan pemberontak Islam terbesar, Front Pembebasan Islam Moro (MILF), demi menyelesaikan pergolakan di unsur selatan Filipina.
Konflik di wilayah tersebut telah memakan tidak sedikit nyawa, menelantarkan jutaan warga kurang mampu Filipina, dan menghentikan pengelolaan investasi di bagian unsur selatan negara
Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana menuliskan aparat terus mengintensifkan operasi militer terhadap Abu Sayyaf di unsur selatan Provinsi Sulu, tergolong serangan udara ke sejumlah wilayah di Kota Jolo.
"Perintah Presiden Duterte ialah untuk menghancurkan Abu Sayyaf," kataseperti dilansir The Strait Times pada Kamis
Serangan bom ganda di Gereja Katedral Our Lady of Mt. Carmel pada Minggu (27/1) menewaskan 21 orang dan melukai ratusan lainnya.
Lihat juga: Duterte Minta Militer Hancurkan Abu Sayyaf Terkait Bom Gereja
Ledakan bom berawal ketika semua pelaku meledakkan diri di dalam gereja dan lokasi parkir mobil.
Serangan ini adalahsalah satu yang sangat mematikan dalam sejumlah tahun terakhir di distrik tersebut. Pulau ini pun menjadi basis kumpulan Abu Sayyaf.
Lorenzana menuliskan telah menerima laporan bersangkutan bisa jadi serangan teror di wilayah tersebut sejak Agustus lalu. Namun, sayangnya aparat Filipina tetap tak mampu mengantisipasinya.
Lorenzana menuturkan semua penyelidik masih terus melakukan penyelidikan bersangkutan serangan itu demi mencari bisa jadi ada terduga lainnya yang terlibat, tergolong sepasang penduduk asal Yaman.
Lorenzana mengemukakan dua penduduk Yaman itu diduga menjadi pelaku yang meledakan sabuk peledak di gereja tersebut.
Berselang sejumlah hari sesudah insiden di Gereja Katedral Our Lady of Mt. Carmel, suatu granat meledak di suatu masjid di Kota Zamboanga. Insiden tersebut menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya.
Lihat juga: Abu Sayyaf Diduga Jadi Otak Pengeboman Gereja Filipina
Kedua insiden ini terjadi saat Undang-Undang Organik Bangsamoro (BOL) Filipina baru-baru ini diabsahkan pemerintah. Beleid itu adalahhasil kesepakatan damai antara pemerintah dan salah satu kumpulan pemberontak Islam terbesar, Front Pembebasan Islam Moro (MILF), demi menyelesaikan pergolakan di unsur selatan Filipina.
Konflik di wilayah tersebut telah memakan tidak sedikit nyawa, menelantarkan jutaan warga kurang mampu Filipina, dan menghentikan pengelolaan investasi di bagian unsur selatan negara

Comments
Post a Comment