Harga Minyak Menguat Dipicu Sanksi AS ke Anggota OPEC
Harga minyak mentah dunia menanjak pada perniagaan Kamis (24/1), masa-masa Amerika Serikat (AS). Penguatan dirangsang oleh ancaman sanksi Gedung Putih terhadap di antara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Venezuela. Namun, penguatan harga minyak masih terbatas oleh data tingginya stok bensin, serta penambahan stok minyak mentah AS.
Dilansir dari Reuters, Jumat (25/1), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,14 menjadi US$61,28 per barel. Penguatan pun terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Imtermediate (WTI) sebesar US$0,62 menjadi US$53,24 per barel.
Pemerintah AS telah menyerahkan sinyal berhubungan pengenaan sanksi terhadap ekspor minyak mentah Venezuela. Hal tersebut terjadi seiring gejolak ekonomi dan politik di Venezuela. Ancaman yang dapat meminimalisir pasokan tersebut mendongkrak harga minyak berjangka.
"(Ancaman) tersebut merupakan kisah besar hari ini guna minyak," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.
Berdasarkan keterangan dari Flynn, pasar paling memperhatikan hal geopolitik dan hal-hal yang bakal terjadi andai AS mengenakan sanksi untuk Venezuela.
Minyak di Venezuela didominasi oleh minyak mentah berat yang memerlukan proses pengilangan mendalam. Seringkali, minyak mentah berat dibaur dengan minyak mentah ringan supaya menghasilkan produk yang lebih bernilai tambah untuk pemilik kilang.
Dengan ekspor minyak Iran yang sudah terhambat oleh pengenaan sanksi AS, maka berkurangnya ekspor minyak Venezuela dapat mengurangi pasokan global lebih banyak lagi. Namun demikian, Brent dan WTI tidak berhubungan langsung dengan minyak Venezuela.
Perusahaan asal Swiss Petro-Logistic, dalam website resminya, mengaku ekspor minyak mentah dan kondensat Iran pada Desember 2018 turun tajam dari November 2018 menjadi tidak cukup dari 1 juta barel masing-masing hari (bph) dampak pengenaan sanksi AS. Angka tersebut lebih rendah dari estimasi sejumlah analis.
Kekhawatiran terhadap pasokan minyak berat tampak nyata di pasar jasmani AS di mana harga Mars Sour yang adalahminyak mentah medium menanjak ke level tertingginya sejak mula 2011 silam.
Sementara, Badan Administrasi Informasi Energi AS menulis harga minyak mentah berjangka terbebani oleh eskalasi tajam persediaan minyak mentah AS pekan kemudian sebesar 8 juta barel. Padahal, sebanyak analis memperkirakan persediaan minyak mentah bakal merosot sebesar 42 ribu barel.
Kemudian, stok bensin pun menanjak sekitar delapan pekan beruntun menjadi 259,7 juta barel, seiring penurunan permintaan bahan bakar motor sekitar 4 pekan terakhir sebesar 0,1 persen dari tahun lalu.
"Laporannya mempunyai sifat menekan harga (bearish), diselingi oleh eskalasi persediaan minyak mentah yang besar," imbuh Partner Again Capital Management John Kilduff.
Berdasarkan keterangan dari Kilduff, permintaan bensin pun masih tidak cukup darah. Kekhawatiran terhadap proyeksi laju perlambatan ekonomi global yang bakal menyeret permintaan minyak mentah pun turut mengurangi harga minyak. Di samping itu, investor pun khawatir terhadap perang dagang antara AS-China.

Comments
Post a Comment