Kakak Raja Thailand Calonkan Diri Jadi Perdana Menteri
Putri Ubolratana Rajakanya Sirivadhana Barnavadi, kakak sulung Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn, mencalonkan diri sebagai perdana menteri dalam pemilihan umum pada Maret mendatang.
Pencalonan Ubolratana ini diberitahukan langsung oleh pengusungnya, Partai Thai Raksa Chart, partai besutan semua loyalis family mantan perdana menteri, Yingluck dan Thaksin Shinawatra.
"Majelis partai sepakat bahwa nama Putri Ubolratana, seorang yang berpendidikan dan berbakat, ialah yang paling sesuai menjadi pilihan," demikian pengakuan Partai Thai Raksa Chart, sebagaimana dilansir AFP, Jumat (8/2).
Lihat juga: Raja Thailand Terbitkan Dekrit Pemilu Pertama Sejak Kudeta
Ubolratana dikenal sebagai individu ceria, sangat bertolak belakang dengan Vajiralongkorn yang kaku. Ia sempat mencungkil titel kerajaannya ketika menikahi seorang penduduk Amerika Serikat sejumlah dekade lalu.
Namun, Ubolratana lantas bercerai dan pulang ke Thailand, di mana ia masih dirasakan sebagai unsur dari family kerajaan.
Dilansir Reuters, Thailand sendiri telah berdiri sebagai negara monarki konstitusional semenjak 1932. Namun, family kerajaan mempunyai pengaruh urgen dan bisa menggiring opini jutaan warga.
Pemilihan umum ini bakal menjadi yang kesatu semenjak pemerintahan militer Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha menggulingkan pemerintah sipil Yingluck Shinawatra nyaris lima tahun silam.
Lihat juga: Jelang Pemilu, Junta Militer Thailand Cabut Larangan Kampanye
Sejak ketika itu, rezim Prayut mencatat ulang konstitusi, membredel oposisi dan pengkritik, sampai menempatkan sekutunya yang adalahpetinggi militer di semua puncak birokrasi.
Sementara itu, Yingluck dan Thaksin gencar berkampanye walau berada di luar negeri untuk memisahkan diri menghindari hukuman di negaranya.
Thaksin gencar menyalurkan pandangannya mengenai masyarakat dan ekonomi Thailand melewati podcast yang ia rilis tiap pekan, sedangkan Yingluck semakin rajin merilis potret kegiatannya.
Lihat juga: Klan Shinawatra Bikin Partai Baru Hadapi Pemilu Thailand
Sejumlah analis menuliskan militer masih berupaya mendominasi pemerintah dalam pemilu ini, sedangkan Prayut berupaya lebih menonjolkan perannya sebagai pemimpin sipil di mata rakyat.
Meski tahapan oposisi junta diduga mulus dalam pemilu nanti, pemerintahan sipil tetap tak dapat bergerak bebas lantaran konstitusi yang ditulis ulang oleh rezim militer ketika ini.
"Anda dapat menyebutnya (Thailand) sebagai demokrasi hibrid," kata Somjai Phagaphasvivat, analis politik Universitas Thammasat
Pencalonan Ubolratana ini diberitahukan langsung oleh pengusungnya, Partai Thai Raksa Chart, partai besutan semua loyalis family mantan perdana menteri, Yingluck dan Thaksin Shinawatra.
"Majelis partai sepakat bahwa nama Putri Ubolratana, seorang yang berpendidikan dan berbakat, ialah yang paling sesuai menjadi pilihan," demikian pengakuan Partai Thai Raksa Chart, sebagaimana dilansir AFP, Jumat (8/2).
Lihat juga: Raja Thailand Terbitkan Dekrit Pemilu Pertama Sejak Kudeta
Ubolratana dikenal sebagai individu ceria, sangat bertolak belakang dengan Vajiralongkorn yang kaku. Ia sempat mencungkil titel kerajaannya ketika menikahi seorang penduduk Amerika Serikat sejumlah dekade lalu.
Namun, Ubolratana lantas bercerai dan pulang ke Thailand, di mana ia masih dirasakan sebagai unsur dari family kerajaan.
Dilansir Reuters, Thailand sendiri telah berdiri sebagai negara monarki konstitusional semenjak 1932. Namun, family kerajaan mempunyai pengaruh urgen dan bisa menggiring opini jutaan warga.
Pemilihan umum ini bakal menjadi yang kesatu semenjak pemerintahan militer Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha menggulingkan pemerintah sipil Yingluck Shinawatra nyaris lima tahun silam.
Lihat juga: Jelang Pemilu, Junta Militer Thailand Cabut Larangan Kampanye
Sejak ketika itu, rezim Prayut mencatat ulang konstitusi, membredel oposisi dan pengkritik, sampai menempatkan sekutunya yang adalahpetinggi militer di semua puncak birokrasi.
Sementara itu, Yingluck dan Thaksin gencar berkampanye walau berada di luar negeri untuk memisahkan diri menghindari hukuman di negaranya.
Thaksin gencar menyalurkan pandangannya mengenai masyarakat dan ekonomi Thailand melewati podcast yang ia rilis tiap pekan, sedangkan Yingluck semakin rajin merilis potret kegiatannya.
Lihat juga: Klan Shinawatra Bikin Partai Baru Hadapi Pemilu Thailand
Sejumlah analis menuliskan militer masih berupaya mendominasi pemerintah dalam pemilu ini, sedangkan Prayut berupaya lebih menonjolkan perannya sebagai pemimpin sipil di mata rakyat.
Meski tahapan oposisi junta diduga mulus dalam pemilu nanti, pemerintahan sipil tetap tak dapat bergerak bebas lantaran konstitusi yang ditulis ulang oleh rezim militer ketika ini.
"Anda dapat menyebutnya (Thailand) sebagai demokrasi hibrid," kata Somjai Phagaphasvivat, analis politik Universitas Thammasat

Comments
Post a Comment