Ikut Langkah AS, Rusia Ikut Keluar dari Perjanjian Nuklir INF
Rusia mengaku akan terbit dari keikutsertaan Traktat Angkatan Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces/ INF). Langkah tersebut menyusul keputusan Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya pun menarik diri dari traktat ini.
"Amerika, partner kami, telah memberitahukan bahwa mereka menangguhkan keikutsertaan dalam kesepakatan (INF Treaty) tersebut, dan kami pun menangguhkan keikutsertaan kami," ujar Presiden Rusia Vladimir Putin pada Sabtu (2/2), laksana dikutip dari AFP.
Pernyataan Putin dikatakan saat menghadiri rapat dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Pertahanan Rusia Sergeu Shoigu. Putin mengaku Rusia tidak bakal lagi menginisiasi percakapan bersangkutan kesepakatan pelucutan senjatan nuklir tersebut dengan AS.
"Kami akan menantikan sampai partner kami telah lumayan mampu untuk mengerjakan dialog yang setara dan berarti dengan kami berhubungan topik yang sangat urgen ini," ujarnya.
Pada Jumat (1/2) kemarin, Presiden AS Trump mengaku negaranya menangguhkan pelaksanaan keharusan di bawah Traktat INF. AS, kata dia, akan mengawali proses terbit dalam enam bulan ke depan.
Gedung Putih mengaku sistem rudal jarak menengah Rusia melanggar kesepakatan tersebut. Namun, Rusia sudah lama bersikeras bahwa urusan tersebut tidak melanggar kesepakatan. Bagi diketahui pada bulan lalu, Rusia mengundang media dan angkatan militer asing untuk mengucapkan paparan berhubungan sistem persenjataan yang dipersoalkan itu.
Sebelumnya, Putin menakut-nakuti untuk mengembangkan rudal nuklir yang dilarang di bawah Traktat INF andai traktat itu dihapus.
Putin pun menyatakan andai Washington berpindah untuk menanam lebih tidak sedikit rudal di Eropa sesudah meninggalkan traktat tersebut, Rusia bakal meresponnya. Rusia mengaku setiap negara di Eropa yang setuju guna menjadi lokasi peluru kendali AS akan dalam bahaya serangan Rusia.
Traktat INF diteken pada akhir Perang Dingin oleh mantan presiden AS Ronald Reagen dan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Traktat tersebut tidak mengizinkan peluncuran rudal darat dengan jarak 500 sampai 5.500 kilometer.
Kesepakatan tersebut mengatasi krisis berhubungan rudal balistik nuklir yang menyasar kota-kota di barat. Namun, traktat itu tidak memberi batas negara lain laksana China.
"Amerika, partner kami, telah memberitahukan bahwa mereka menangguhkan keikutsertaan dalam kesepakatan (INF Treaty) tersebut, dan kami pun menangguhkan keikutsertaan kami," ujar Presiden Rusia Vladimir Putin pada Sabtu (2/2), laksana dikutip dari AFP.
Pernyataan Putin dikatakan saat menghadiri rapat dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Pertahanan Rusia Sergeu Shoigu. Putin mengaku Rusia tidak bakal lagi menginisiasi percakapan bersangkutan kesepakatan pelucutan senjatan nuklir tersebut dengan AS.
"Kami akan menantikan sampai partner kami telah lumayan mampu untuk mengerjakan dialog yang setara dan berarti dengan kami berhubungan topik yang sangat urgen ini," ujarnya.
Pada Jumat (1/2) kemarin, Presiden AS Trump mengaku negaranya menangguhkan pelaksanaan keharusan di bawah Traktat INF. AS, kata dia, akan mengawali proses terbit dalam enam bulan ke depan.
Gedung Putih mengaku sistem rudal jarak menengah Rusia melanggar kesepakatan tersebut. Namun, Rusia sudah lama bersikeras bahwa urusan tersebut tidak melanggar kesepakatan. Bagi diketahui pada bulan lalu, Rusia mengundang media dan angkatan militer asing untuk mengucapkan paparan berhubungan sistem persenjataan yang dipersoalkan itu.
Sebelumnya, Putin menakut-nakuti untuk mengembangkan rudal nuklir yang dilarang di bawah Traktat INF andai traktat itu dihapus.
Putin pun menyatakan andai Washington berpindah untuk menanam lebih tidak sedikit rudal di Eropa sesudah meninggalkan traktat tersebut, Rusia bakal meresponnya. Rusia mengaku setiap negara di Eropa yang setuju guna menjadi lokasi peluru kendali AS akan dalam bahaya serangan Rusia.
Traktat INF diteken pada akhir Perang Dingin oleh mantan presiden AS Ronald Reagen dan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Traktat tersebut tidak mengizinkan peluncuran rudal darat dengan jarak 500 sampai 5.500 kilometer.
Kesepakatan tersebut mengatasi krisis berhubungan rudal balistik nuklir yang menyasar kota-kota di barat. Namun, traktat itu tidak memberi batas negara lain laksana China.

Comments
Post a Comment