Pemanasan Global Ancam Ketahanan Pangan Hingga Ekosistem

Laporan yang dipresentasikan Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/ IPCC) pada akhir 2018 menulis pemanasan global menciptakan suhu merasakan peningkatan 1,5 derajat celcius antara tahun 2030 dan 2052. Peningkatan suhu ini di atas tingkat pra-industrial dan alur emisi gas lokasi tinggal kaca global.

Peneliti dari Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability mengutip laporan IPCC memperingatkan sebanyak risiko dampak pemanasan global. Risiko yang dimaksud yaitu ancaman keanekaragaman hayati dan ekosistem, keawetan pangan, kesehatan sampai pertumbuhan ekonomi.



Disamping itu, kegiatan-kegiatan insan ditaksir pun menyebabkan menignkatnya pemanasan global antara 0,8 derajat celsius sampai 1,2 derajat celsius

asclepias Rachmi Indriyanto menuliskan laporan IPCC dapat menjadi pengingat untuk pemerintah guna tidak terus melalaikan perubahan iklim.

Mengingat andai pemerintah melalaikan isu pemanasan global terjadi lebih cepat dikomparasikan tingkat suhu pra-industri. Tak melulu itu, Rachmi pun menekankan pemerintah memperjelas perannya di Nationally Determined Contributions (NDC) yang adalahbagian dari Kepakatan Paris guna menurunkan emisi nasional.

"Kejelasan itu dibutuhkan untuk merumuskan peran dan posisi Indonesia dalam menanggapi laporan eksklusif IPCC. Dalam sejumlah hal, NDC pun bersangkutan pada upaya menerjemahkan laporan IPCC dan hasil penelitian ilmiah ke dalam kehidupan sehari-hari," terangnya disela diskusi media di Jakarta, Rabu (13/2).

Peneliti Research Center for Climate Change Universitas Indonesia dan ekonom WRI Indonesia Sonny Mumbunan mengatakan, dalam menanggapi isu evolusi iklim butuh adanya integrasi dan koordinasi pembangunan yang sepadan

Sonny juga mengapresiasi soal Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional yang berupaya untuk meminimalisir rendah karbon sekaligus mendorong integrasi laksana yang dilaksanakan Bappenas dalam penyusunan RPJMN.

"Integrasi kepandaian pemerintah terhadap evolusi iklim sangat dibutuhkan baik secara vertikal dan horizontal, contoh dalam menerjemahkan manfaat pekerjaan bersangkutan evolusi iklim dari tingkat nasional ke sub nasional dan untuk wilayah yang saling bersangkutan lintas distrik administratifnya laksana Jakarta dan Bogor," jelasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Kakak Raja Thailand Calonkan Diri Jadi Perdana Menteri

Twitter Pertimbangkan Bikin Fitur 'Klasifikasi'

Tolak Maduro, Australia Dukung Juan Guaido Pimpin Venezuela