Korsel Anggarkan Rp164 T untuk Bangun Perbatasan Korut
Korea Selatan memperhitungkan dana sebesar 13,2 triliun won atau selama Rp164 triliun guna pembangunan distrik perbatasan dengan Korea Utara sekitar satu dasawarsa ke depan.
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korsel mengulas uang itu akan dipakai untuk 225 proyek di distrik perbatasan antar-Korea sampai 2030. Proyek tersebut bertujuan untuk membina landasan pertukaran dan kerja sama antar-Korea.
Sekitar 5,1 triliun won (Rp63,3 triliun) dianggarkan untuk 21 proyek pengembangan dasar untuk pertukaran dan kerja sama antar-Korea, tergolong pembangunan jalan dua jalur antara Pulau Yeongjong dan Pulau Shin di sepanjang pesisir barat.
Lihat juga: Korut-Korsel Resmikan Proyek Jalan dan Rel Kereta Bersama
Korsel pun akan merestorasi distrik Korea Selatan di jalur Gyeongwon, suatu rute kereta api antara Seoul dan kota pesisir unsur timur Wonsan kepunyaan Korut. Pusat pertukaran kebiasaan antar-Korea bakal dibangun di Cheorwon, suatu kota perbatasan Korea Selatan yang dilalui jalur kereta Gyeongwon.
Untuk mengembangkan wilayah perbatasan secara seimbang, 3,4 triliun won (Rp42,2 triliun) akan dianggarkan untuk 54 proyek, tergolong membangun area industri dan membuat situasi yang kondusif untuk bisnis start-up.
Sekitar 3 triliun won (Rp37,2 triliun) dianggarkan untuk memicu pariwisata perdamaian di distrik perbatasan, termasuk penciptaan rute wisata di sekitar Zona Demiliterisasi (DMZ) yang membelah Semenanjung Korea semenjak Perang Korea 1950-1953 yang selesai dengan gencatan senjata.
Lihat juga: PBB Izinkan Korea Utara-Selatan Survei Jalur Kereta Bersama
Sisa 1,7 triliun won (21,1 triliun rupiah) dianggarkan ke 42 proyek guna memperbaiki situasi domisili, seperti ekspansi pusat budaya, olahraga dan kesejahteraan, serta pembangunan jaringan pasokan bahan bakar gas.
Kementerian tersebut mengulas dana tersebut tergolong 5,4 triliun won (Rp67,1 triliun) dari pemerintah pusat, setiap 2,2 triliun won (Rp27,3 triliun) dari pemerintah wilayah dan 5,6 triliun won (Rp69,5 triliun) dari sektor swasta.
Pengembangan distrik perbatasan sekitar ini terbatas karena dalil keamanan militer. Selama delapan tahun terakhir, total 2,8 triliun won (Rp34,7 triliun) dikuras untuk mengembangkan proyek pariwisata, membangun area industri, dan memperluas infrastruktur transportasi perbatasan.
Lihat juga: Kim Jong-un Ingin Lebih Sering Bertemu Moon pada 2019
Investasi yang bakal diperluas ini dirasakan mencerminkan evolusi situasi di dalam dan luar negeri, tergolong hubungan antar-Korea yang membaik.
Sebelumnya, Korsel dan Korut sepakat mengerjakan modernisasi yang nantinya bakal menghubungkan jalur kereta api dan jalan di sepanjang Semenanjung Korea bagian unsur timur dan barat.
Kedua belah pihak menyelenggarakan upacara peletakan batu kesatu pada Desember lalu, namun pembangunannya belum dilaksanakan karena terkendala sanksi internasional terhadap Pyongyang.
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korsel mengulas uang itu akan dipakai untuk 225 proyek di distrik perbatasan antar-Korea sampai 2030. Proyek tersebut bertujuan untuk membina landasan pertukaran dan kerja sama antar-Korea.
Sekitar 5,1 triliun won (Rp63,3 triliun) dianggarkan untuk 21 proyek pengembangan dasar untuk pertukaran dan kerja sama antar-Korea, tergolong pembangunan jalan dua jalur antara Pulau Yeongjong dan Pulau Shin di sepanjang pesisir barat.
Lihat juga: Korut-Korsel Resmikan Proyek Jalan dan Rel Kereta Bersama
Korsel pun akan merestorasi distrik Korea Selatan di jalur Gyeongwon, suatu rute kereta api antara Seoul dan kota pesisir unsur timur Wonsan kepunyaan Korut. Pusat pertukaran kebiasaan antar-Korea bakal dibangun di Cheorwon, suatu kota perbatasan Korea Selatan yang dilalui jalur kereta Gyeongwon.
Untuk mengembangkan wilayah perbatasan secara seimbang, 3,4 triliun won (Rp42,2 triliun) akan dianggarkan untuk 54 proyek, tergolong membangun area industri dan membuat situasi yang kondusif untuk bisnis start-up.
Sekitar 3 triliun won (Rp37,2 triliun) dianggarkan untuk memicu pariwisata perdamaian di distrik perbatasan, termasuk penciptaan rute wisata di sekitar Zona Demiliterisasi (DMZ) yang membelah Semenanjung Korea semenjak Perang Korea 1950-1953 yang selesai dengan gencatan senjata.
Lihat juga: PBB Izinkan Korea Utara-Selatan Survei Jalur Kereta Bersama
Sisa 1,7 triliun won (21,1 triliun rupiah) dianggarkan ke 42 proyek guna memperbaiki situasi domisili, seperti ekspansi pusat budaya, olahraga dan kesejahteraan, serta pembangunan jaringan pasokan bahan bakar gas.
Kementerian tersebut mengulas dana tersebut tergolong 5,4 triliun won (Rp67,1 triliun) dari pemerintah pusat, setiap 2,2 triliun won (Rp27,3 triliun) dari pemerintah wilayah dan 5,6 triliun won (Rp69,5 triliun) dari sektor swasta.
Pengembangan distrik perbatasan sekitar ini terbatas karena dalil keamanan militer. Selama delapan tahun terakhir, total 2,8 triliun won (Rp34,7 triliun) dikuras untuk mengembangkan proyek pariwisata, membangun area industri, dan memperluas infrastruktur transportasi perbatasan.
Lihat juga: Kim Jong-un Ingin Lebih Sering Bertemu Moon pada 2019
Investasi yang bakal diperluas ini dirasakan mencerminkan evolusi situasi di dalam dan luar negeri, tergolong hubungan antar-Korea yang membaik.
Sebelumnya, Korsel dan Korut sepakat mengerjakan modernisasi yang nantinya bakal menghubungkan jalur kereta api dan jalan di sepanjang Semenanjung Korea bagian unsur timur dan barat.
Kedua belah pihak menyelenggarakan upacara peletakan batu kesatu pada Desember lalu, namun pembangunannya belum dilaksanakan karena terkendala sanksi internasional terhadap Pyongyang.

Comments
Post a Comment