Sanksi AS Terhadap Venezuela Dongkrak Harga Minyak Pekan Lalu
Harga minyak mentah dunia menguat sepanjang pekan lalu, dirangsang oleh sinyal pengetatan pasokan sesudah Amerika Serikat (AS) memberitahukan pengenaan sanksi terhadap ekspor Venezuela.
Penguatan pun didukung oleh membaiknya data lapangan kerja AS, bersamaan pula dengan pemangkasan jumlah rig minyak mentah pada pekan sebelumnya.
Dilansir dari Reuters, Senin (4/2), harga minyak mentah berjangka Brent pada Jumat (1/2) lalu diblokir di level US$62,75 per barel atau menguat 1,9 persen secara mingguan.
Penguatan pun terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar 3 persen menjadi US$55,26 per barel.
Harga minyak mendapatkan dukungan dari pengenaan sanksi AS terhadap perusahaan minyak pelat merah Venezuela PDVSA pekan lalu, yang mengakibatkan tanker minyak terjebak di pelabuhan.
Pada Jumat (1/2) lalu, Departemen Keuangan AS menyerahkan rincian dari akibat pengenaan sanksi tersebut.
Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow mengungkapkan pasar mulai melihat akibat pengenaan sanksi itu terhadap pasokan minyak mentah. Dalam urusan ini, harga jual minyak dalam negeri terdongkrak sampai-sampai memangkas margin yang didapatkan dari operator kilang.
"Hal itu, bareng dengan pemangkasan buatan Arab Saudi dan penurunan buatan Libya telah mengolah sentimen pasar seiring arah yang semakin condong untuk kondisi pasokan yang lebih seimbang," ujar Lipow di Houston.
Di samping itu, harga minyak pun mendapatkan desakan dari kinerja bursa saham Wall Street yang membaik, sesudah AS merilis data perkembangan lapangan kerja yang kuat.
Harga minyak pun menanjak berkat data perusahaan layanan energi Baker Hughes berhubungan jumlah rig minyak yang menurun pada pekan sebelumnya. Penurunan itu adalahyang keempat dalam 5 pekan terakhir dan menciptakan jumlah rig secara borongan terendah sekitar 8 bulan terakhir.
Sumber Reuters menyatakan sejumlah pengelola kilang AS mulai meminimalisir pengilangan minyak mentah, seiring pengenaan sanksi yang mendongkrak ongkos minyak dan seiring anjloknya margin bensin ke level terendah untuk nyaris satu dasawarsa terakhir.
Di Arab Saudi, survei Reuters menulis produksi minyak Arab Saudi merosot 350 ribu barel masing-masing hari (bph) dikomparasikan Desember 2018.
Pasar keuangan pun mendapatkan sokongan dari komentar Presiden AS Donald Trump melewati cuitan akun Twitter yang resmi. Pada Kamis (31/1) lalu, Trump mengaku ia bakal segera bertemu dengan Presiden China Xi Jinping untuk mengupayakan mengatasi sengketa perdagangan. Namun, berikutnya Trump pun menyatakan bahwa ia bisa menunda percakapan tersebut andai kesepakatan tetap sulit dimengerti.
Di sisi lain, kantor berita China mengadukan pembicaraan perniagaan terakhir antara AS-China telah menjangkau sejumlah progres penting.
"Banyak pelaku pasar melihat urusan tersebut kemungkinan bakal terwujud dan suatu kesepakatan bakal terjadi terjadi sesudah pertemuan (AS-China) walau setiap format kesepakatan akan menciptakan pasar terus gelisah," ujar Cantor Fitzgerald Europe dalam catatannya.
Namun, suatu survei di China menunjukkan kegiatan pabrik China menurun pada Januari 2019. Penurunan itu adalahyang terbesar dalam tiga tahun terkahir. Hal tersebut kembali memunculkan ketakutan bakal merosotnya permintaan bahan bakar di perekonomian terbesar kedua di dunia itu.
Penguatan pun didukung oleh membaiknya data lapangan kerja AS, bersamaan pula dengan pemangkasan jumlah rig minyak mentah pada pekan sebelumnya.
Dilansir dari Reuters, Senin (4/2), harga minyak mentah berjangka Brent pada Jumat (1/2) lalu diblokir di level US$62,75 per barel atau menguat 1,9 persen secara mingguan.
Penguatan pun terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar 3 persen menjadi US$55,26 per barel.
Harga minyak mendapatkan dukungan dari pengenaan sanksi AS terhadap perusahaan minyak pelat merah Venezuela PDVSA pekan lalu, yang mengakibatkan tanker minyak terjebak di pelabuhan.
Pada Jumat (1/2) lalu, Departemen Keuangan AS menyerahkan rincian dari akibat pengenaan sanksi tersebut.
Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow mengungkapkan pasar mulai melihat akibat pengenaan sanksi itu terhadap pasokan minyak mentah. Dalam urusan ini, harga jual minyak dalam negeri terdongkrak sampai-sampai memangkas margin yang didapatkan dari operator kilang.
"Hal itu, bareng dengan pemangkasan buatan Arab Saudi dan penurunan buatan Libya telah mengolah sentimen pasar seiring arah yang semakin condong untuk kondisi pasokan yang lebih seimbang," ujar Lipow di Houston.
Di samping itu, harga minyak pun mendapatkan desakan dari kinerja bursa saham Wall Street yang membaik, sesudah AS merilis data perkembangan lapangan kerja yang kuat.
Harga minyak pun menanjak berkat data perusahaan layanan energi Baker Hughes berhubungan jumlah rig minyak yang menurun pada pekan sebelumnya. Penurunan itu adalahyang keempat dalam 5 pekan terakhir dan menciptakan jumlah rig secara borongan terendah sekitar 8 bulan terakhir.
Sumber Reuters menyatakan sejumlah pengelola kilang AS mulai meminimalisir pengilangan minyak mentah, seiring pengenaan sanksi yang mendongkrak ongkos minyak dan seiring anjloknya margin bensin ke level terendah untuk nyaris satu dasawarsa terakhir.
Di Arab Saudi, survei Reuters menulis produksi minyak Arab Saudi merosot 350 ribu barel masing-masing hari (bph) dikomparasikan Desember 2018.
Pasar keuangan pun mendapatkan sokongan dari komentar Presiden AS Donald Trump melewati cuitan akun Twitter yang resmi. Pada Kamis (31/1) lalu, Trump mengaku ia bakal segera bertemu dengan Presiden China Xi Jinping untuk mengupayakan mengatasi sengketa perdagangan. Namun, berikutnya Trump pun menyatakan bahwa ia bisa menunda percakapan tersebut andai kesepakatan tetap sulit dimengerti.
Di sisi lain, kantor berita China mengadukan pembicaraan perniagaan terakhir antara AS-China telah menjangkau sejumlah progres penting.
"Banyak pelaku pasar melihat urusan tersebut kemungkinan bakal terwujud dan suatu kesepakatan bakal terjadi terjadi sesudah pertemuan (AS-China) walau setiap format kesepakatan akan menciptakan pasar terus gelisah," ujar Cantor Fitzgerald Europe dalam catatannya.
Namun, suatu survei di China menunjukkan kegiatan pabrik China menurun pada Januari 2019. Penurunan itu adalahyang terbesar dalam tiga tahun terkahir. Hal tersebut kembali memunculkan ketakutan bakal merosotnya permintaan bahan bakar di perekonomian terbesar kedua di dunia itu.

Comments
Post a Comment