Bangladesh Gugat Bank Filipina Atas Kasus Pembobolan Rekening
Bangladesh menyimpulkan bereaksi hukum atas keterlibatan bank Filipina pada salah satu pencopetan siber terbesar di dunia. Gubernur bank sentral Bangladesh Fazle Kabir menuliskan akan mengemukakan gugatan hukum di New York, Amerika Serikat.
Peretas yang tidak dapat teridentifikasi telah menculik US81 juta (Rp 1,13 triliun) dari tabungan bank sentral Bangladesh di bank sentral AS (Federeal Reserve/The Fed) di New York pada Desember 2018.
Uang tersebut lantas ditransfer ke Rizal Commercial Banking Corp (RCBC) cabang Manila kemudian secara cepat ditarik lantas dibersihkan di kasino lokal.
Kabir menuliskan pada AFP bahwa kasus akan diajukan melawan RCBC dan "semua pihak" yang terlibat pencopetan guna mengupayakan mengembalikan duit yang hilang. Dia pun menambahkan sudah terjalin kesepakatan antara pihaknya dengan bank sentral AS di New York buat menyokong gugatan.
Bangladesh sudah mengirim kesebelasan legal ke New York guna persiapan pertarungan buat membalikkan dana.
Pada 2016 kemudian Filipina telah mengenakan denda US$21 juta (Rp294,5 miliar) pada RCBC setelah menyelidiki keterlibatannya pada pencurian. RCBC menampik tuduhan tersebut kemudian pada 2017 mendakwa bank sentral Bangladesh telah mengerjakan "pengalihan isu".
Pada bulan ini mantan manajer RCBC Maia Deguito dijatuhi hukuman penjara yang panjang dan didenda US$109 juta (Rp1,5 triliun). Deguito adalahmanajer cabang bank yang jadi tempat transfer pencurian, dia dituduh mengoordinasikan transfer ilegal itu.
Deguito berencana mengemukakan banding dan dapat bebas dengan garansi sampai putusan resmi.
Pencurian ini mengekspos Filipina sebagai surga duit kotor. Peretas diterangkan menyerang bank sentral AS dengan lusinan permintaan transfer yang mengupayakan mencuri lebih dari US$850 juta.
Namun sistem ketenteraman bank dan penulisan yang salah pada sejumlah permintaan mencegah kecurian lebih banyak.
Aksi pencurian tersebut terjadi pada Jumat, ketika bank sentral Bangladesh tutup. Bank sentral AS tutup pada Sabtu dan Minggu, sampai membuat respons terlambat. Bank sentral AS yang menata rekening bank sentral Bangladesh telah membantah sistem mereka diretas.
Peretas yang tidak dapat teridentifikasi telah menculik US81 juta (Rp 1,13 triliun) dari tabungan bank sentral Bangladesh di bank sentral AS (Federeal Reserve/The Fed) di New York pada Desember 2018.
Uang tersebut lantas ditransfer ke Rizal Commercial Banking Corp (RCBC) cabang Manila kemudian secara cepat ditarik lantas dibersihkan di kasino lokal.
Kabir menuliskan pada AFP bahwa kasus akan diajukan melawan RCBC dan "semua pihak" yang terlibat pencopetan guna mengupayakan mengembalikan duit yang hilang. Dia pun menambahkan sudah terjalin kesepakatan antara pihaknya dengan bank sentral AS di New York buat menyokong gugatan.
Bangladesh sudah mengirim kesebelasan legal ke New York guna persiapan pertarungan buat membalikkan dana.
Pada 2016 kemudian Filipina telah mengenakan denda US$21 juta (Rp294,5 miliar) pada RCBC setelah menyelidiki keterlibatannya pada pencurian. RCBC menampik tuduhan tersebut kemudian pada 2017 mendakwa bank sentral Bangladesh telah mengerjakan "pengalihan isu".
Pada bulan ini mantan manajer RCBC Maia Deguito dijatuhi hukuman penjara yang panjang dan didenda US$109 juta (Rp1,5 triliun). Deguito adalahmanajer cabang bank yang jadi tempat transfer pencurian, dia dituduh mengoordinasikan transfer ilegal itu.
Deguito berencana mengemukakan banding dan dapat bebas dengan garansi sampai putusan resmi.
Pencurian ini mengekspos Filipina sebagai surga duit kotor. Peretas diterangkan menyerang bank sentral AS dengan lusinan permintaan transfer yang mengupayakan mencuri lebih dari US$850 juta.
Namun sistem ketenteraman bank dan penulisan yang salah pada sejumlah permintaan mencegah kecurian lebih banyak.
Aksi pencurian tersebut terjadi pada Jumat, ketika bank sentral Bangladesh tutup. Bank sentral AS tutup pada Sabtu dan Minggu, sampai membuat respons terlambat. Bank sentral AS yang menata rekening bank sentral Bangladesh telah membantah sistem mereka diretas.

Comments
Post a Comment